Senin, 25 Juli 2016

Keluar Surat Mojokin Ahok di Persidangan, Eh Ahok Jadi Lebih Mudah Tangkap Mafianya!

transparanjujur.blogspot.com - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengeluarkan telepon pintarnya lalu memfoto sejumlah barang bukti ketika menjadi saksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, Senin (25/7/2016).

"Saya minta foto pak. Saya juga penasaran siapa tahu ada pengkhianat di kantor saya, soalnya banyak sekali dokumen yang diaminin," ungkap Ahok di sidang terdakwa mantan Presiden Direktur PT. Agung Podomoro Land Ariesman Widjaja dan Trinanda Prihantoro.

Barang bukti yang ditunjukan oleh JPU KPK dipersidangan kali ini merupakan barang sitaan dari sejumlah tempat, seperti di sejumlah ruangan gedung DPRD DKI Jakarta dan Balai Kota DKI terkait raperda reklamasi Teluk Jakarta.

Setelah hampir lima jam bersaksi di persidangan, Ahok menerangkan apabila ada sejumlah surat yang ditunjukan kepadanya dan telah diterima, dipastikan akan ada lembar disposisi yang berisi instruksi tertulis dari Ahok untuk menindaklanjuti surat.

"Sehingga saya tidak ingat. Kalau ini surat betul masuk ke gubernur, harusnya waktu disita, itu ada lembar notulen, dari saya disposisi. Lembar disposisi," ungkap Ahok usai memberikan keterangan di Tipikor.

Menurut Ahok, surat yang diperlihatkan majelis hakim tidak disertai lembar disposisi. Setelah memiliki bukti foto, Ahok mengaku akan lebih gampang dirinya menelusuri surat tersebut.

"Nah, tadi tidak ada lembar disposisi. Saya katakan, 'saya satu hari ratusan surat, udah sekian tahun saya tidak ingat. Saya tidak ingat ada surat itu'," ujarnya.

"Makanya, saya bilang ada nggak disposisi saya?. Pihak penuntut juga tidak ada ketemu disposisi. Makanya saya minta izin saya mau foto nih, surat ini, saya mau ngecek," Ahok menambahkan.

Mantan Bupati Belitung Timur ini menjelaskan, apabila arsip disposisi tidak pernah mencatat keberadaan surat, Ahok menduga ada oknum yang menginginkan surat tersebut tidak sampai ke meja kerjanya.

"Kalau ternyata nggak ada disposisi saya, berarti ada pengkhianat yang menahan (surat) dari pengetahuan saya," tuding Ahok.

Nah lo? 'Mafia' nya kurang canggih. Ahok cukup cerdas. Surat yang luput dari pengetahuannya di foto dan ditelusuri untuk mencari siapa mafianya? Bagaimana menurut Anda?


Sumber: suara.com

TV One Memang Beda! Ahok Jadi Saksi Disiarkan LIVE, Eh Sanusi Disidang Jadi Terdakwa Tak Disiarkan!

transparanjujur.blogspot.com - Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK menghadirkan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, sebagai saksi kasus suap raperda reklamasi dengan tersangka presiden direktur PT Agung Podomoro Land, Ariesman Widjaja.

Ahok menerangkan tak ada persiapan khusus untuk bersaksi sore nanti. Ia mengatakan hanya membawa sejumlah dokumen terkait pembahasan dua raperda tersebut.

"Lagi disiapin (dokumennya). Kita cuma menyampaikan apa yang kita tahu, kita denger, itu saja," kata Ahok.

Mantan Bupati Belitung Timur ini memastikan kesaksiannya nanti untuk memberatkan para terdakwa.

Untuk diketahui, dari kasus suap reklamasi ini, KPK sudah menetapkan tiga tersangka yakni Ketua Komisi D DPRD DKI non aktif Mohamad Sanusi, Presdir PT Agung Podomoro Land Ariesman Widjaja dan Personal Assistant PT Agung Podomoro Land Trinanda Prihantoro.

Namun, sangat menggelitik ketika hanya sebagai Saksi tapi TV One siarkan secara LIVE. Sementara persidangan Sanusi sebagai terdakwa tak ada siaran LIVE. TV ONE memang beda..!!

Sampai berita ini diturunkan, acara LIVE TVOne tersebut masih berlangsung. Selain TV ONE, KompasTV juga menyiarkan secara LIVE.

Bagus memang. Tapi kalau bisa, saat sidang Sanusi juga disiarkan LIVE. Sehingga berimbang. Bagaimana menurut anda?


Penulis: Dian Ariyani via Beritateratas.com

Udah Gratiskan Biaya Berobat, Dokter Lo Juga Bayar Tagihan Resep Pasien Rp 10 Juta Tiap Bulan

transparanjujur.blogspot.com - Bagi Lo Siaw Ging (82), mengucapkan sumpah dokter yang dilakukannya puluhan tahun silam bukanlah hanya sekadar sumpah yang hanya keluar dari mulut semata, namun benar-benar dilaksanakan dalam dunia nyata.

Dokter Lo Siaw Ging yang akrab disapa dengan Dokter Lo adalah seorang dokter dari Solo. Dokter keturunan Tionghoa ini memang sudah populer di Solo bahkan di Indonesia. Bukan hanya karena obat dan diagnosa yang diberikannya selalu tepat tetapi dia tidak pernah mematok tarif kepada pasiennya.

Setiap hari Senin hingga Sabtu dokter Lo membuka praktiknya di rumahnya, Jalan Yap Tjwan Bing No 27, Jagalan, Jebres, Solo, Jawa Tengah. Praktik tersebut buka pada pukul 06.00 dan pada 16.00 WIB. Sedangkan siang hari dokter Lo melayani pasien-pasiennya di Rumah Sakit Kasih Ibu yang terletak di Jalan Slamet Riyadi. Baik di rumah maupun di rumah sakit, praktik dokter Lo selalu dipadati oleh pasien yang ingin berobat.

Dokter Lo menjadi istimewa karena tidak pernah memasang tarif. Dia juga tidak pernah membedakan pasien kaya dan miskin. Dia malah marah jika ada pasien yang menanyakan ongkos periksa apabila pasien tidak punya uang.

Bahkan, selain membebaskan biaya periksa, tidak jarang dokter Lo juga membantu pasien yang tidak mampu menebus resep. Dia akan menuliskan resep dan meminta pasien mengambil obat ke apotek tanpa harus membayar. Pada setiap akhir bulan, pihak apotek yang akan menagih harga obat kepada sang dokter.

"Saya patahkan persepsi, kalau mau kaya itu jangan jadi dokter, dokter tugasnya menolong sesama. Kalau mau kaya jadilah pedagang," ucap dokter Lo dengan tegas saat ditemui brilio.net di RS Kasih Ibu Jumat (12/6/15)

Perlakuan ini bukan hanya untuk pasien yang periksa di tempat praktiknya, tapi juga untuk pasien-pasien rawat inap di rumah sakit tempatnya bekerja, RS Kasih Ibu. Alhasil, dokter Lo harus membayar tagihan resep antara Rp 8 juta hingga Rp 10 juta setiap bulan. Jika biaya perawatan pasien cukup besar, misalnya, harus menjalani operasi, dokter Lo tidak menyerah. Dia akan turun sendiri untuk mencari donatur.

"Saya tahu pasien mana yang mampu membayar dan tidak. Untuk apa mereka membayar ongkos dokter dan obat kalau setelah itu tidak bisa membeli beras? Kasihan kalau anak-anaknya tidak bisa makan," ungkap Dokter Lo.

Gaya bicaranya memang tegas dan terkesan galak. Dia pun mengaku sering memarahi pasiennya yang memandang enteng masalah kesehatan. Usianya yang semakin tua, dan jalannya yang sudah harus dibantu tongkat tidak mematahkan semangatnya untuk selalu mengabdi pada masyarakat.

"Nantinya cuma ajal yang akan menghentikan pengabdian saya kepada masyarakat," pungkasnya.


Baca Juga: Dokter Lo Siaw Ging Yang Tak Pernah Minta Bayaran Ke Pasien Kini Sakit Stroke

sumber: Brilio.net

Jokowi: "Enak saja, makan di sini, cari duit di sini, bertempat tinggal di sini, tapi negara lain yang makmur"

transparanjujur.blogspot.com - Presiden Joko Widodo optimistis penerapan undang-undang Tax Amnesty bisa menarik uang ribuan triliun rupiah masuk ke Indonesia.

Presiden menjelaskan sekarang ini sudah ada payung hukum untuk para pengusaha yang masih menyimpan uangnya di luar negeri.

"Kita harus optimis uang itu kembali, karena sudah dibuat payung hukum, kalau uangnya tidak kembali, awas!" tegasnya di acara Silaturahmi Nasional bersama para pendukungnya di Wisma Serbaguna Senayan, Jakarta, Minggu (24/7/2016).

"Enak saja, makan di sini, cari duit di sini, bertempat tinggal di sini, tapi negara lain yang makmur," lanjutnya.

Jokowi menjelaskan bahwa Tax Amnesty adalah salah satu terobosan untuk mempercepat pembangunan di Indonesia. Sekarang ini, masyarakat sangat membutuhkan dana tersebut untuk kepentingan luas.

Walau pada awalnya, Jokowi sempat bingung apakah undang-undang tersebut dapat terselesaikan secara cepat di DPR atau tidak. Padahal hal itu sudah harus diterapkan dalam waktu dekat.

"Tapi Alhamdulillah, ternyata bisa. Karena dengan kecepatan, undang-undang Tax Amnesty bisa disetujui soalnya kalau lewat bulan Juli, momentumnya habis," ungkap dia.

Seperti diketahui, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengesahkan Rancangan Undang-Undang Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) dan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2015 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2016 beserta Nota Perubahannya (RAPBN-P 2016) dalam sidang paripurna, Selasa (28/6/2016).


Sumber: Tribunnews.com

Abraham Samad: Kalau Nggak Dikorup, Penghasilan Tiap Orang Indonesia Rp 30 Juta/Bulan! Share!

transparanjujur.blogspot.com - Kenapa rakyat Indonesia miskin dan mengenaskan, ternyata ini disebabkan pada brutalnya korupsi yang terjadi di Indonesia, distribusi kekayaan menyimpang, di Indonesia yang kaya itu kaya sekali, sementara yang miskin banyak. Padahal alam kita ini aslinya sangat kaya raya.

Mantan Ketua KPK Abraham Samad, berbicara lantang soal hal ini bahwa kemiskinan orang Indonesia disebabkan oleh Korupsi, kalau nggak ada korupsi penghasilan orang Indonesia itu puluhan juta rupiah per bulan.

Dari Migas saja, menurut Abraham Samad, nyaris 50% perusahaan tambang di Indonesia tidak membayar royalti ke Pemerintah. Angka itu menurut Abraham Samad berkisar di angka Rp. 20 ribu Trilyun.

"Coba dibagi dengan 241 juta jiwa. Maka kita akan menemukan angka pendapatan terendah adalah Rp 30 juta per bulan," ungkap Abraham Samad.

"Pernah saya tanyakan ke pengusaha tambang, kenapa tidak bayar royalti. Ternyata karena uang mereka yang keluar lebih besar dari pada royalti untuk suap oknum aparatur pemerintah," jelasnya. Jadi royalti yang mustinya masuk ke kas Pemerintah malah masuk ke aparat pemerintah. Buat bayar sogokan.

Abraham Samad meminta dukungan rakyat secara total untuk mendukung KPK supaya kekayaan bangsa ini seperti kekayaan di sektor energi bisa dinikmati oleh penduduk bangsa ini sendiri.

Wah, Bagaimana menurut Anda?

Tolong bantu sebarkan, agar rakyat Indonesia tahu seberapa brutalnya nilai yang dikorupsi itu, terima kasih.


Sumber: (Okezone.com)

Minggu, 24 Juli 2016

Dokter Dermawan Keturunan Tionghoa Yang Tak Pernah Minta Bayaran Ke Pasien Kini Sakit Stroke

Dr. Lo Siauw Ging di tempat prkateknya, Jalan Jagalan 27 Solo. Foto: Lusia Arumingtyas/JAWA POS
transparanjujur.blogspot.com - Anda pasti masih ingat dengan dokter dermawan keturunan tionghoa yang satu ini ?

Ya Dialah dr Lo Siaw Ging yang dikenal sangat peduli terhadap yang kaum marjinal.

Tapi Kini Sang Dokter Dermawan Ini diberitakan sedang sedang sakit stroke dan di rawat di RS

Info sakitnya dr Lo Siaw Ging ini transparanjujur.blogspot.com dapatkan dari akun Fb Arcobaleno Batik

Lewat akun facebooknya, Arcobaleno Batik menulis postingan tentang sakitnya  dr Lo Siaw Ging

Dr Lo yang sudah terkenal di Solo karena kedermawanannya menolong semua pasien tanpa memberikan patokan tarif, sedang sakit stroke dan di rawat di RS. Kasih Ibu Solo. Mohon doa untuk kesembuhan dokter kita yg budiman ini semoga lekas sembuh " tulis akun Fb Arcobaleno Batik.

Beberapa Netizen langsung menanggapi postingan akun Fb Arcobaleno Batik Tersebut Dan mendoakan Buat kesembuhan dr Lo Siaw Ging.

"Semoga Dokter Lo yg bersahaja ini disegerakan kesembuhannya, aamiin " Tulis Akun Firdaus Rusli Wijaya

"Semoga lekas sembuh Dokter Lo yg baek hati & tdk pernah membeda2kan pasien2nya.. aamiin.. " Tulis akun Diandi Danendra Guntoro

"Smg TUHAN memberi kesembuhan utk dr.Lo amen GBU " Tulis akun Dewi

"Semoga Tuhan angkat penyakitnya Dr. Lo. Amin " Tulis akun Berlian Kusumaningsih Seps

"somoga Tuhan memberikan yg terbaik buat dokter " Tulis akun Winarno

"Semoga segera pulih kesehatan Dokter Lo.banyak pasien yang memerlukan uluran tangan nya.Amin " tulis akun Cylinnus Riohardoyo

"Kami berdoa utk kesembuhan dr. Lo, smg cepat sembuh...." tulis akun Tri Utami Setyo Rahayu


Hingga berita Ini Ditulis Oleh Tim transparanjujur.blogspot.com, Postingan akun Fb Arcobaleno Batik yang mengabarkan tentang sakitnya Dr. Lo telah dibagikan oleh 155 pengguna facebook.

Dr Lo yang lahir di Magelang 16 Agustus 1934 tersebut menjadi paradoks di tengah-tengah sikap skeptis masyarakat umum yang meyakini biaya berobat di rumah sakit pasti mahal.

Banyaknya kasus penolakan pasien tak mampu di rumah sakit seakan luruh ketika menyimak kisah hidup Lo Siaw Ging.

Dokter keturunan tionghoa ini dikenal tidak memasang tarif bagi pasien miskin.

Dr Lo, begitu dia kerap disapa, menyambut setiap yang datang ke ruang praktiknya di Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo, dengan senyum ramahnya.

Usianya tidak lagi muda dan berjalan pun harus dengan menggunakan tongkat, tetapi semangat untuk membantu pasien yang membutuhkan pertolongan membuat dirinya tetap datang untuk melayani pasien. Dr Lo bahkan sempat keberatan jika sikapnya ini terlalu dipublikasikan.

"Tidak perlu dibesar-besarkanlah. Itu sudah saya lakukan dari sejak dulu. Menjadi dokter itu memang harus menolong yang sakit dan miskin. Kalau mau kaya ya jangan jadi dokter, tapi jadi pedagang," ungkap dr Lo kepada Kompas.com, Sabtu (30/11/2013).

Itu adalah pesan dari ayahnya yang terus menjadi penyemangat bagi dr Lo untuk terus berkarya bagi para pasiennya.

"Saya selalu ingat pesan ayah saya, kalau ingin kaya jangan jadi dokter, tapi jadilah pedagang. Saya pun memilih menjadi dokter karena itu cita-cita saya dari sejak kecil," ujar dr Lo.

Hal itu lah yang membuatnya memutuskan bahwa dirinya tidak akan mengenakan tarif kepada pasien yang miskin. Dr Lo mengaku, dirinya melihat bahwa para pasien miskin tidak perlu lagi dibebani dengan biaya pengobatan karena perjuangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka juga sudah berat.

"Saya katakan tidak usah bayar, uangnya buat beli beras saja," tuturnya tentang pengalamannya bertemu dengan pasien miskin.

Alumni dari Universitas Airlangga tahun 1962 yang sempat mencicipi pendidikan di Manajemen Administrasi Rumah Sakit di Universitas Indonesia ini pernah menjabat sebagai Direktur Utama Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo, periode 1981-2004.

Setelah pensiun dari kursi direktur, suami dari Maria Gan May Kwee tersebut tetap melayani pasien di rumah sakit yang sama dan di tempat praktiknya sekaligus rumahnya di Jagalan, Jebres, Solo, sampai kini.

Saat disinggung akan sampai kapan melayani pasien, pengagum sosok dr Oen tersebut mengatakan hingga sampai tubuhnya sudah tidak bisa bergerak.

"Ndak tahu, selama tubuh saya masih bisa bekerja, saya akan melayani," ungkapnya.


Sumber: islamnkri.com

Mengejutkan!! Bantargebang Diambil Alih Ahok, Nasib Pekerjanya Jadi Begini! Share!

1.000 unit truk sampah dan 15 alat berat milik Dinas Kebersihan Pemprov DKI Jakarta beroperasi di TPST Bantargebang, Bekasi @Kompas.com/David Oliver Purba
transparanjujur.blogspot.com - Swakelola Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi oleh Dinas Kebersihan DKI Jakarta ditanggapi positif oleh sejumlah mantan pegawai PT Godang Tua Jaya (GTJ), perusahaan yang sebelumnya mengelola TPST Bantargebang.

Rhoni contohnya, wanita berusia 42 tahun yang telah bekerja cukup lama sebagai pekerja di pabrik kompos milik PT GTJ menyebut jika dia bersyukur Pemprov mengambil alih Bantargebang.

Rhoni senang karena Dinas Kebersihan berjanji akan merekrut para mantan pegawai PT GTJ untuk dijadikan pekerja harian lepas (PHL) di Dinas Kebersihan DKI. Ini berarti pendapatannya akan sama dengan UMP DKI sebesar Rp 3,1 juta. Sebab selama bekerja di PT GTJ, upahnya tidak lebih dari Rp 1 juta.

Menurut Rhoni, dirinya dalam sehari dibayar Rp 32.000 oleh PT GTJ dengan target 40 lori kompos.  Artinya, dia bisa mendapatkan upah sebesar Rp 960.000 per bulan dengan syarat bekerja setiap hari tanpa libur.

"Alhamdulillah, diambil saja DKI. Pengen ngerasain juga dapat Rp 3 jutaan mas, he he he," ungkap Rhoni saat ditemui Kompas.com di TPST Bantargebang, Minggu (24/7/2016).

Sebelumnya, Rhoni dan sejumlah pegawai PT GTJ lainnya khawatir karena swakelola tersebut, Pemprov DKI tidak akan memakai jasa mereka lagi.

Rhoni mengaku, bekerja di pabrik kompos merupakan salah satu sumber pendapatan keluarganya.

Selain upah yang kecil, Rhoni mengaku, sulit untuk mendapatkan kenaikan upah. "Kemarin minta naik Rp 5.000 aja susah banget mas, cuma naikin upah segitu aja," ungkap dia.

Rhoni dan sejumlah pekerja lainnya mulai bekerja dari pagi hingga sore hari.

Tak hanya Rhoni, Sema (44) yang telah bekerja selama setahun di pabrik kompos PT GTJ mengaku gembira mendengan kabar dirinya akan menjadi PHL. Ini karena biaya sekolah anak-anaknya juga didapatkan dari menjadi pekerja di pabrik kompos PT GTJ.

Selain itu, dirinya juga gembira karena Dinas Kebersihan akan memberikan jaminan kesehatan berupa BPJS Kesehatan untuk dia dan keluarganya. Sema mengatakan, saat menjadi pegawai GTJ, tidak pernah merasakan jaminan kesehatan.

"Egggak ada jaminan apa-apa. Ya kalau sakit berobat, begitu saja," ungkap Sema.

Begitu juga dengan Yanti yang mengaku lebih suka jika Pemprov mengambilalih TPST Bantargebang. "Pokoknya senang kayak yang lain he he he," ungkap Yanti.

Pada Selasa (19/7/2016), Dinas Kebersihan DKI Jakarta resmi memutus kontrak pengelolaan TPST Bantargebang dengan PT Godang Tua Jaya (GTJ) dan mitranya, Navigat Organic Energy Indonesia (NOEI).

Sejak diambil alih, Dinas Kebersihan terus berbenah dengan menambah sejumlah alat berat dan truk. Hingga akhir tahun ini, Dinas kebersihan akan menambah 91 truk sampah compactor.

Silahkan dishare jika berkenan, terima kasih.


sumber: kompas.com

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India