Sabtu, 08 Oktober 2016

Militan ISIS Yg Dulu Mau Bunuh Ahok Ini Dijatuhi Hukuman 6 Tahun Penjara! Share!

transparanjujur.blogspot.com -  Arif Hidayatullah alias Abu Mushaf dijatuhi hukuman enam tahun penjara. Arif adalah tangan kanan gembong ISIS untuk Indonesia Bahrun Naim dan pernah mendapat perintah untuk membunuh Ahok.

Arif Hidayatullah dipilih oleh Bahrun Naim sebagai koordinator dan penerima dana ISIS di Indonesia. Dia kemudian mendapat perintah untuk melakukan sejumlah serangan bom ke tempat-tempat ibadah di kota Bogor, dan membunuh Gubernur Jakarta Basuki �Ahok� Tjahaja Purnama.

Hal itu terungkap dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang berakhir dengan pembacaan vonis enam tahun penjara hari Senin (03/10).

Bahrun Naim dan Arif Hidayatullah melakukan kontak lewat aplikasi pesan Telegram. Kelompok ini dianggap bertanggung jawab atas serangkaian serangan teror di Indonesia, antara lain aksi penembakan di kawasan Sarinah Thamrin, Jakarta bulan Januari dan aksi bom bunuh diri di Solo Juli lalu.

Terpidana menyiapkan bahan peledak

�Terdakwa dinyatakan secara meyakinkan bersalah atas kejahatan terorisme dan dijatuhi hukuman enam tahun penjara,� kata Hakim Siti Jamzanah.

Arif Hidayatullah ditangkap polisi akhir Desember 2015 bersama-sama dengan seorang warga Uighur bernama Ali yang disiapkan untuk melakukan aksi bom bunuh diri. Tapi selama persidangan, Arif mengaku tidak meneruskan rencana serangan bom bunuh diri, karena tidak yakin bom-bom itu benar-benar akan meledak. Bulan Juli lalu, anggota jaringan ini bernama Nur Rohman melakukan aksi bom bunuh diri di Markas Kepolisian Resor Kota (Mapolresta) Solo. Tidak ada korban tewas dalam aksi itu, selain pelakunya.

Sekongkol lakukan aksi terorisme

Hakim Siti Jamzanah mengatakan, dia yakin dengan bukti-bukti yang dipaparkan, bahwa Arif telah bersekongkol untuk melakukan aksi terorisme dengan bom dan �sepenuhnya menyadari� bahwa bom akan menyebabkan kehancuran jika meledak.

Bahrun Naim dan Arif Hidayatullah sudah saling mengenal sejak kuliah dan tinggal di Bekasi. Bahrun Naim kemudian mendorong Arif Hidayatullah berlatih membuat bom. Dia juga meminta Arif membuka rekening di bank.

Pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2015. Bahrun Naim memerintahkan Arif Hidayatullah untuk membantu keberangkatan beberapa orang dari jaringan militan Suriah. Arif diminta menjemput dan menampung seorang warga Uighur yang lari dari kejaran pemerintah China. Keduanya kemudian tertangkap oleh Detasemen Khusus (Densus 88) pada Desember 2015. (ARN)

Jumat, 07 Oktober 2016

Dukungan NU Jakarta Atas Ucapan Ahok Terkait Al-Maidah 51 Tampar Muka para Begundal Rasis

transparanjujur.blogspot.com - Pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Kepulauan Seribu terkait Surat Al-Maidah menuai polemik. Ahok dituding sejumlah pihak menghina Alquran.

Cara Irit Pererat Pertemanan dengan Jalan-Jalan

Namun, Wakil Katib Syuriah PWNU DKI-Jakarta, Taufik Damas menilai, tidak ada kata-kata Ahok yang dituding banyak pihak menistakan Alquran. Hal itu disimpulkannya setelah melihat dan mendengarkan secara utuh rekaman video pidato Ahok di Kepulauan Seribu yang berdurasi 1 jam 43 menit.

"Seharusnya kita lihat video aslinya yang utuh. Saya sudah melihat, dan suasananya sangat cair. Masyarakat tampak antusias dan gembira mendengarkan pidato Ahok ketika itu. Lagi pula, saya perhatikan ucapan Ahok itu tidak bermaksud melecehkah ayat dalam surat Al-Maidah itu. Ucapan Ahok itu bermakna memang ada orang yang yang menggunakan ayat tersebut dalam konteks pemilihan kepada daerah di Jakarta, khususnya menyangkut larangan memilih pemimpin non-muslim. Jadi titik tekannya adalah kalimat 'membohongi pakai ayat', bukan ayatnya yang membohongi," kata tokoh muda NU ini, Jumat (7/10).

Dia mengatakan, rekaman itu menjadi ramai karena potongan rekaman video yang menyebar justru hanya sekitar 30 detik, atau cuma sepotong. Rekaman 30 detik itu berisi pernyataan Ahok "Bapak ibu enggak bisa pilih saya, karena dibohongin pakai surat Al-Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak bapak ibu ya. Jadi kalau bapak ibu perasaan enggak bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, enggak apa-apa. Karena ini kan hak pribadi bapak ibu. Program ini jalan saja. Jadi bapak ibu enggak usah merasa engga enak. Dalam nuraninya enggak bisa pilih Ahok".

Menurutnya, kalimat Ahok cukup jelas bahwa yang dituju adalah orang-orang yang menggunakan ayat untuk pentingan politik. Bukan menyebut bahwa yang berbohong adalah surat Al-Maidah 51.

"Namun, dalam politik tak menutup kemungkinan ada orang yang menjadikan ayat-ayat hanya sebagai alat politik. Memperlakukan ayat-ayat sebagai alat politik. Justru inilah yang berbahaya, karena berpotensi mengaburkan fakta politik yang sebenarnya," katanya.

Dia menilai sebaiknya unsur SARA benar-benar dihindari dalam politik karena akan selalu melahirkan kontroversi yang tak berujung. Menurut Taufik, lebih baik masyarakat diajak untuk berpikir kritis terhadap calon pemimpin yang ada, baik di Jakarta atau di daerah lain.

"Pilkada kan bukan hanya di Jakarta, tapi juga ada di daerah lain. Sikap kritis dan obyektif harus dikedepankan dalam melihat proses Pilkada ini," tukasnya. (sumber: merdeka.com)

Buni Yani, Pengunggah Potongan Video Ahok Kini Merengek Rengek Minta Bantuan Hukum Gratisan


transparanjujur.blogspot.com - Ini  Dia Tampang Pengunggah Potongan Video Ahok Yang Dilaporkan Ke Polisi Oleh Kelompok relawan Kotak Adja (Komunitas Muda Ahok Djarot) lantaran memfitnah ahok

Usai dilaporkan kepolisi lantaran menyebarkan fitnah terhadap ahok, Buni yani kini sangat gusar sekali ketakutan membayangkan akan hidup di balik jeruji besi akibat ulahnya sendiri

lewat akun facebooknya, Buni yani  kini merengek rengek minta bantuan hukum gratisan kepada teman temannya agar terhindar dari jeratan hukum yang kini harus ia hadapi

" Kawan2, saya dapat kabar akan dilaporkan ke polisi karena upload video dan transkripnya. Kalau ada yang bisa membantu saya dengan bantuan hukum, saya akan sangat berterima kasih.

Sebagai warga negara yang baik, saya siap menghadap polisi dan menjelaskan posisi saya sebagai peneliti media dan mantan praktisi media. Mudahan ini tidak mengganggu pekerjaan dan kegiatan akademik saya " Tulis Buni Yani sebagaimana dikutip islamnkri.com lewat akun facebooknya

Sebagaimana Dilansir Islamnkri.com Dari kompas.com, Kelompok relawan Kotak Adja (Komunitas Muda Ahok Djarot) melaporkan ke Polda Metro Jaya, Jumat (7/10/2016) terkait video Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang membuat heboh beberapa hari terakhir.

Laporan itu diterima dengan nomor TBL/4873/X/2016/PMJ/Dit Reskrimsus.

Ketua Kotak Adja, Muannas Alaidid mengatakan pihaknya melaporkan akun Facebook bernama SBY (Si Buni Yani) yang diduga pertama memprovokasi masyarakat dengan memposting potongan dari video asli.

"Kami melihat adanya pengunggahan video viral di Facebook tidak utuh dan sepotong-potong sehingga menimbulkan multitafsir dan kesalahpahaman," kata Muannas di Mapolda Metro Jaya, Jumat.

Muannas mengaku melapor atas inisiatifnya sendiri. Ia juga melihat adanya niat jahat dari pelaku untuk mengadudomba masyarakat. Akun Facebook itu kini telah dihapus pemiliknya.

"Hasil temuan kami ternyata akun ini juga menyebarkan form registrasi salah satu pendukung pasangan calon di Pilkada DKI, yang bersangkutan adalah pendukung salah satu pasangan calon," ujar Muannas.

Muannas pun melaporkan tersebut melanggar Pasal 28 UU 11 Tahun 2008 tentang Informasi Teknologi dan Transaksi Elektronik tentang penyebaran informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan berdasarkan SARA.

Terkait dengan beberapa pihak yang sebelumnya melaporkan Ahok atas penistaan agama, Muannas justru meminta polisi juga mengusut secara tuntas sebab meresahkan masyarakat.

"Kami mengharapkan warga DKI khusus umat Islam tidak terpancing dan terprovokasi dan tetap obyektif menyikapi sehingga pelaksanaan pilkada 2017 nanti dapat berjalan dengan aman dan lancar," ujarnya

Editor & Sumber: islamnkri.com

LIKE And SHARE

Kamis, 06 Oktober 2016

Video Lengkap ini Bongkar Kebohongan Haters yang Menuduh Ahok Menghina Al-Maidah 51! Share!

transparanjujur.blogspot.com - Suasana panas terjadi usai sidang judicial review Undang-Undang Pilkada 2017 selesai dilaksanakan. Mendadak, salah seorang Tim Advokasi Cinta Tanah Air (ACTA) meneriaki pemohon, sekaligus Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dengan umpatan kasar.

"Kau kurang ajar, kau Ahok," teriak Novel di Gedung MK, Jakarta Pusat, Kamis (6/10).
Menurut rekannya, Habiburokhman, kekesalan itu muncul karena anggota ACTA, Novel kesal lantaran Ahok dituduh mengutip ayat Alquran surat Al Maidah. Tak hanya itu, Ahok juga dianggap telah melecehkan Alquran.

Hari ini beredar berita viral Ahok dituding melecehkan Alquran. Ada video yang sudah dipotong.

Ucapan Ahok tersebut terlontar saat menggelar blusukan dan berdialog dengan masyarakat Kepulauan Seribu. Saat memberikan sambutan, Ahok sempat menyinggung mengenai Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta, salah satunya terkait isu pemimpin non Muslim.

Kalimat itu diucapkan Ahok di menit 23. Dia meminta warga Kepulauan Seribu tetap memilih dengan hati nurani, meski ada yang pihak yang membawa-bawa surat Al Maidah ayat 51. Berikut video lengkapnya:




Sumber: Merdeka.com

Rabu, 05 Oktober 2016

Diminta Jadi Tim Pemenangan Ahok-Djarot, Sambil Terharu Ruhut Merespon Begini...

Ruhut Sitompul Terharu Diajak Gabung Tim Pemenangan Ahok Djarot
transparanjujur.blogspot.com - Nama politisi Partai Demokrat, Ruhut Sitompul, masuk ke dalam daftar tim pemenangan bakal calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat.

Ruhut memang sejak awal sudah tegas menyatakan dukungannya kepada Ahok. Padahal, partainya sudah menentukan pilihan untuk mengusung pasangan Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni.
Ruhut mengaku kaget sekaligus terharu saat dirinya diajak bergabung dengan tim pemenangan Ahok-Djarot. Selasa (4/10/2016) siang, Ruhut mendapat telepon dari politisi PDI Perjuangan, Charles Honoris.

Lewat komunikasi tersebut, Charles mengatakan bahwa Drajot dan Prasetyo Edi Marsudi sebagai ketua tim pemenangan ingin bicara dengannya.

Ruhut berkisah, saat itu mereka meminta izin kepadanya untuk menjadi juru bicara tim pemenangan Ahok-Djarot. Prasetyo saat itu tengah bersiap ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk menyerahkan daftar tim pemenangan.

"Mereka bilang sedang persiapan mau ke KPU. Mohon izin kami masukkan Abang jadi jurkam dan juru bicara. Apa Abang bersedia?" kata Ruhut menirukan kalimat Prasetyo saat dihubungi, Selasa malam.

"Apa aku enggak terharu? Aku kan orangnya selembut salju, aku lebih lembut lagi. Kagetlah kawan-kawan, dan aku bangga," ucapnya.

Ruhut mengklaim bahwa mayoritas rekan-rekannya dari empat partai pendukung Ahok-Djarot, yaitu Partai Nasdem, Partai Hanura, Partai Golkar, dan PDI-P, mendukungnya untuk masuk ke barisan tim pemenangan sekalipun tidak berasal dari partai tersebut.

Ia pun sudah bertekad akan total terjun ke lapangan saat tim pemenangan sudah disahkan dan diperbolehkan bergerak oleh KPU.

"Aku diajarkan orangtuaku. Kalau mandi itu basah, enggak boleh setengah-setengah. Mulai sekarang mereka sudah jadwalkan aku banyak. Kalau perlu menginap di rumah penduduk DKI ini untuk meyakinkan mereka kenapa Ahok," kata dia.


(Sumber: Kompas.com)

Selasa, 04 Oktober 2016

Takut Ahok Jadi Presiden, PPP Usul Amandemen UUD 1945 Kembalikan Frasa "Presiden ialah Orang Indonesia Asli"!

Ketum PPP Romahurmuziy (Liputan6.com/
transparanjujur.blogspot.com - Partai Persatuan Pembangunan mengusulkan kembalinya dilakukan amandemen terhadap Undang-Undang Dasar 1945, terutama Pasal 6 ayat 1.

Hal itu disampaikan Ketua Umum PPP Muhammad Romahurmuziy saat memberikan sambutan dalam Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) DPP PPP di Jakarta, Senin (3/10/2016) malam.
Dalam Pasal 6 ayat 1 UUD 1945 disebutkan, "Calon presiden dan calon wakil presiden harus seorang warga negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain karena kehendaknya sendiri, tidak pernah mengkhianati negara, serta mampu secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai Presiden dan Wakil Presiden".

PPP, kata Romahurmuziy, menginginkan frasa "orang Indonesia asli" kembali dimasukkan dalam pasal tersebut, persis seperti sebelum diamandemen.

Dengan demikian, pasal tersebut akan disertai frasa "Presiden ialah orang Indonesia asli".

"PPP mengusulkan dikembalikannya frasa 'orang Indonesia asli' ke dalam batang tubuh Pasal 6 UUD 1945 untuk persyaratan calon presiden dan wakil presiden," ujar pria yang akrab disapa Romi itu.

"Nasionalisme PPP terganggu akhir-akhir ini seiring banyaknya ujaran kebencian yang muncul di media menyoal hal ini," kata dia.

Menurut Romi, perubahan bunyi pasal tersebut sangat diperlukan sebagai ketegasan sikap dan semangat nasionalisme.

Para pendiri bangsa atau yang biasa dikenal dengan founding fathers, kata Romi, juga menginginkan bangsa ini dipimpin oleh orang Indonesia asli.

"Ketegasan kita sebagai bangsa tentang posisi puncak kedua pemimpin nasional perlu dikembalikan pada semangat lahirnya UUD 1945 oleh para pendiri bangsa, yakni bahwa presiden dan wakil presiden haruslah pribumi," kata dia.

Meskipun demikian, lanjut dia, PPP juga menyadari terbuka berbagai kemungkinan amandemen di luar yang diinginkan PPP.

"Mengingat dinamika yang pasti tinggi ketika menyangkut perubahan UUD," ujarnya.


sumber: kompas.com

Senin, 03 Oktober 2016

Rumah Mau Diserbu, Jawaban Anak Ahok Ini Sungguh Mencengangkan! Share!

transparanjujur.blogspot.com - Berbagai kebijakan baru yang diambil oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok selalu mendapat respon pro dan kontra dari masyarakat ibukota. Bahkan tak jarang Ahok mendapat ancaman penyerangan dari berbagai pihak.

Salah satu kebijakan Ahok yang menuai ancaman adalah saat dia menertibkan pemukiman liar di kawasan Waduk Pluit, Jakarta Utara.

Waktu itu Ahok mendapatkan ancaman rumahnya bakal diserbu oleh 1.000 orang.

Ahok pun menyampaikan hal itu kepada istri dan ketiga anaknya. Namun dengan berani, anak sulung Ahok, Nicholas menjawab, "Oke, kita fight sampai mati, titik akhir."

Mendengar jawaban itu, Ahok pun meminta putranya untuk mempersiapkan senjata untuk berjaga-jaga, diantaranya pisau komando, beling dan airsoft gun.

Sebagai persiapan lain, Ahok juga memberikan arahan kepada istri dan anak-anaknya tentang jalur evakuasi untuk menyelamatkan diri jia benar-benar diserbu.

Namun hingga waktunya, ancaman tersebut hanya merupakan isu belaka.

Kisah tersebut Ahok sampaikan saat dia mengisi acara talkshow bersama SMA Santa Laurencius di Balaikota.

Dari pengalaman tersebut, Ahok mengajarkan kepada anak-anaknya untuk tidak takut mati membela kebenaran.

Dalam kesempatan itu, Ahok juga memiliki keinginan untuk dikenang di tanah kelahirannya. "Saya bilang ke istri saya kalau saya mati jangan dikremasi, kirim saja ke Belitung Timur, minimal tambah lagi satu situs wisata, kuburan Ahok," kata Ahok sambil terkekeh.


Sumber: BeritaTeratas.com

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India